Langsung ke konten utama

Tektok Kembali Di Gunung Ciung 950 MDPL Sentul City


Full Basah Kuyup Di Guyur Hujan•
Tepat satu minggu yang lalu saya melakukan tektok kembali di Gunung Ciung 950 MDPL Sentul City Kabupaten Bogor Jawa Barat.Kenapa akhirnya saya kembali padahal kalau di ingat kembali saya telah melakukan dua kali kunjungan atau pendakian di Gunung ini, yang pertama tektok dan yang kedua adalah camping di Gunung Ciung ini. 
Bukan tanpa alasan akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Gunung Ciung ini, karena masih ada lokasi di Gunung Ciung ini atau salah satu spot yang menarik memang untuk di telusuri selain Puncak Ciung nya yang memang jadi tujuan utamanya ya.Karena memang di perjalanan pertama dan kedua itu saya benar-benar tidak mendapatkan kesempatan untuk menelusuri tempat tersebut.Maka dari itu saya memutuskan untuk kembali dan memilih Gunung Ciung sebagai tempat hiking saat ini karena masih ada satu lokasi saja yang menurut saya kurang lengkap rasanya kalau tidak di datangi selain Puncak Ciung sama camp area nya ya.
Apakah itu? Memang masih ada spot lain yang menarik di Gunung Ciung ini, jelas tentunya ada. Inilah yang membawa saya kembali ke Gunung Ciung ini, karena rasa penasaran juga yang memang selalu menghantui pikiran saya setelah dari Gunung Ciung dua kali tetapi tidak mendatangi spot tersebut. Dan perjalanan ini juga sebagai penutup saya atau my last trip in Gunung Ciung demi menyambut datangnya bulan suci ramadhan. Dan saya akan melanjutkan perjalanan kembali atau ekspedisi lagi di bulan Syawal insya Allah setelah lebaran kita gas lagi kembali mengeksplorasi alam sekitar lagi, tidak perlu jauh-jauh untuk memulai sebuah perjalanan cukup amati alam dan keindahan di sekitar kita. Karena sangat di sayangkan kita sebagai warga yang memang sangat dekat dengan keindahan alam tersebut tetapi malah tidak tahu sama sekali tentang keindahan tersebut.
Satu langkah kecil yang akan mengubah hidup anda, iya sangat sederhana sih kata-kata tersebut cuma kalau kita perhatikan maknanya sangat dalam sekali dan memang sangat berpengaruh sama hidup kita tentunya.Maka dari itu saya memulai langkah saya kembali yang sudah lama terhenti, entah kapan saya terkahir kali melakukan langkah ini, sudah lama sekali dan akhirnya saya pun lupa. Larut dalam kesibukan sehingga mengke sampingkan kegiatan yang memang sedari dulu saya suka melakukannya.Tanpa beban dan sebuah kebebasan bisa saya rasakan sendiri, melepaskan semua yang ada di dalam benak hati dan pikiran di suatu tempat yang indah itu memang sangat baik tentunya.Selain kamu di suguhi pemandangan yang sangat indah, dan kamu di tempat yang terbuka dengan hamparan alam yang indah dengan demikian pikiran kamu juga akan ikut terbuka dan akhirnya bermuara pada sang Pencipta dan akhirnya akan mengingatnya di manapun kamu berada. Sebagai pengingat juga bahwa keindahan yang kamu lihat saat itu adalah ciptaan dan mahakarya sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Nah mengenai mahakarya atau keindahan alam lainnya di Gunung Ciung ini, memang masih ada apa aja di Gunung Ciung, sehingga akhrinya membawa saya kembali ke Gunung Ciung ini. Kita simak sedikit di bawah ini pengalaman terakhir saya tektok kembali di Gunung Ciung in

Leuwi Ciung. 
Berawal dari pengalaman pertama saya pas tektok saat itu ya hujan-hujan, dengan kabut sangat tebal juga saat itu dan saya hanya seorang diri di Gunung Ciung tanpa ada pendaki lain, akan tetapi warga sekitar yang berladang masih bisa kita temui di Gunung Ciung ini, jadi saya tidak benar-benar seoarang diri hanya saja jarak antara saya sama warga yang sedang berladang memang agak sedikit jauh, tetapi hiruk pikuk suaranya masih bisa saya dengar.Setidaknya ada manusia lain selain saya di Gunung Ciung ini.
Di camp area 720 mdpl saya membaca plang atau petunjuk jalan untuk menuju dua spot yang memang sangat menarik untuk dikunjungi yaitu Curug Ciung dan Leuwi Ciung dengan jarak 700 hingga 900 meter dari camp area. Ini hal menarik menurut saya, dan wajib tentunya untuk di datangi selagi saya duduk-duduk di camp area 720 mdpl dengan pemandangan kabut tebalnya sambil memikirkan hal tersebut.
Saya menjadi dilema saat itu dan bingung tentunya antara mau memilih Leuwi Ciung atau ke Puncak Ciung 950 Mdpl, dengan kondisi yang memang cuaca saat itu kurang bersahabat hujan dan kabut tebal. Disisi lain saya pun janji sama orang rumah hanya sebentar saja melakukan perjalanan ini. Akhirnya saya pun bijak dalam mengambil keputusan, dan saya akhirnya kembali ke rumah setelah tidak lama dari camp area 720 mdpl dengan posisi masih hujan saat itu guna menghindari hal-hal yang memang tidak di inginkan.Mengenai lokasi atau spot yang memang belum bisa saya datangi, saya bisa melakukan perjalanan kembali di kemudian hari. Seperti tidak ada hari esok saja ya teman, di situ ego saya memang benar-benar di uji sih dan akhirnya saya bisa melawan semua itu, alam memang tempat terbaik buat belajar sesuatu dan melatih mental serta ego kita, yang tidak bisa kita dapatkan dari balik jendela kamar kita atau kelas kita sewaktu di sekolah. 
Dan akhirnya tepat pada tanggal 9 Maret 2024 saya kembali ke Gunung Ciung 950 mdpl dengan niat utama menuju Puncak 950 mdpl tentunya dan nyebur di Leuwi Ciung, hanya itu saja selebihnya saya akan menikmati keindahan dari  camp area 720 mdpl. Dan perjalanan ini tentunya di akhir pekan saya sangat penasaran sekali apakah akan ramai dengan pendaki lain dan warungnya akan buka, penasaran bukan saya sendiri pun penasaran, di sana saya pasti akan bertemu banyak orang tentunya mengingat akhir pekan selalu di jadikan pilihan orang-orang untuk memulai sebuah pendakian. Disisi lain hari tersebut memang bagi sebagian orang adalah hari libur. Karena di Indonesia sendiri kebanyakan pekerja atau karyawan itu biasa bekerja antara hari Senin-Jumat.Tidak menutup kemungkinan anak sekolah pun mungkin seperti itu ya kalau di zaman sekarang, karena terbukti ponakan saya sendiri hari sabtu itu tidak ada kegiatan belajar di sekolah alias libur, berbeda dengan zaman saya dulu hari sabtu tetap sekolah seperti biasa plus ekstra kurikuler ya tentunya bedanya hari Sabtu itu sih waktu zaman saya dulu.Jadi tidak heran banyak orang memilih akhir pekan untuk menghabiskan waktu buat sekedar hiking santai seperti di Gunung Ciung ini. 
Oke Kembali ke Gunung Ciung, untuk tektok saat itu sama seperti pengalaman pertama saya yaitu di temani air hujan dan kabut tebal. Cuaca memang sedang tidak bersahabat saat itu, akan tetapi tidak menurunkan niat saya untuk tetap melakukan pendakian di Gunung Ciung ini dengan tetap selalu berhati-hati tentunya karena kontur jalanan dan track yang sangat licin di saat hujan. 


Dengan tiket hiking Rp.15.000, saya sudah bisa menikmati keindahan wisata alam Gunung Ciung ini. Lengkap dengan kesegaran air Leuwi nya serta view indahnya dari atas Puncak Ciung 950 mdpl. Ibarat sambil menyelam minum air, itu sih kata-kata mungkin yang menggambarkan Gunung Ciung ini.Banyak sekali yang bisa kita rasakan di Gunung Ciung ini.Salah satunya ya Leuwi Ciung yang menjadi bagian perjalanan saya saat itu ya. 
Tidak butuh waktu lama saya sampai di camp area 720 mdpl tepat pada pukul 08.00 WIB, dan di situ saya sempat beristirahat sejenak guna kembali mengumpulkan energi yang memang sudah terkuras saat melakukan perjalanan dari basecamp menuju camp area ini. Di sisi lain hujan pun turun cukup deras sekali dan saya mau tidak mau harus menunggu reda terlebih dahulu dan tetap berhati-hati karena jalur tracknya sangat licin.
Pukul 08.30 WIB akhirnya saya memutuskan melanjutkan kembali perjalanan menuju Puncak Ciung 950 mdpl dengan kondisi agak sedikit gerimis dan tidak selebat tadi.Sempat di tengah-tengah perjalanan hujan turun kembali dengan derasnya dan saya berteduh sejenak di bawah pepohonan yang rindang. Tetapi setelah itu hujan pun kembali reda dan kabut tebal pun menyelimuti Gunung Ciung ini putih sekali saya seperti berada di atas awan saat itu, jadi teringat film 5 CM film yang di bintangi Fedi Nuril dan kawan-kawan iya film tersebut tentang pendakian juga, pasti kalian juga pernah menontonnya. 
Pukul 09.00 WIB akhirnya saya sampai Puncak Ciung 950 mdpl dengan selamat dan dengan kondisi masih hujan yaitu gerimis serta kabut tebal.Iya cuaca menang sedang buruk saat itu, dan di atas Puncak pun saya tidak berlama-lama hanya mengamati sekitar yang hanya berupa kabut tebal menyelimuti Gunung Ciung sehingga view indah pun tidak terlihat sama sekali. Dan iya saya hanya seorang diri di atas Puncak sana, karena tidak ada pendaki lain selain hanya saya seoarang diri saat itu iya masih terlalu pagi juga sih orang-orang mungkin baru akan memulai pendakian dan saya malah udah sampai Puncak terlebih dahulu.
Setelah itu saya memutuskan kembali untuk turun menuju camp area 720 mdpl, untuk durasi waktu kurang lebih masih sama hanya saja ada selisih waktu sedikit antara dengan waktu naik tadi. Di karenakan kondisi jalur yang memang sangat licin karena hujan turun tadi. Dan mengenai waktu itu bukan hal yang memang sangat penting atau prioritas utama ya bukan sih. Akan tetapi keselamatan diri sendiri lah yang menurut saya lebih utama dan tentunya prioritas utama juga baru setelah itu waktu, terlebih melakukan hiking di saat hujan seperti ini di perlukan ke hati-hatian yang sangat ekstra tentunya apa lagi seperti saya yang hanya seorang diri yaitu solo hiking. Jadi keselematan diri sendiri itu lebih utama ya dan harus selalu di utamakan. 
Karena untuk apa terburu-buru itu tidak baik, dan saya pun tidak mau menjadi yang tercepat menjadi yang terdepan itu sah-sah saja bahkan saya rasa lebih baik ya guna bisa memberi contoh yang baik juga buat orang-orang dan bermanfaat tentunya.Tidak usah terburu-buru dan berpacu pada waktu, cukup nikmati setiap langkah demi langkah yang kamu ambil pada saat itu, kotor, becek, terpeleset, basah, tidak apa-apa itu bagian dari langkah kita ketika sedang di gunung. Dengan begitu kita bisa lebih menikmati pendakian tersebut, karena menurut saya mendaki adalah proses pendekatan kita terhadap alam merasakan, menyatu dengan alam menjadi bagian dari alam dan menjaga serta merawat alam tersebut adalah bentuk kecintaan kita terhadap alam dan tentunya sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan keindahan alam tersebut. Dengan kata lain dengan mendaki kita bisa melihat betapa besarnya kuasa Tuhan atas apa yang telah beliau ciptakan hingga saat ini, kita ini hanya manusia biasa yang sarat akan lupa, hina, dan dina. Selalu bersyukur atas nikmat yang memang tidak terhingga seperti di dalam alquran saya pernah membaca "nikmat mana lagi yang kau dustakan".Sudah jelas bukan bersyukur dan selalu ingat dia di manapun kita berada insyaAllah kita akan selalu terjaga karena dengan mengingatnya hati kita akan menjadi tenang sekali pun sedang seorang diri di alam seperti ini.
Kembali ke Leuwi Ciung, tidak lama dari Camp Area saya langsung menuju Leuwi Ciung dengan jarak 700 meter dari camp area 720 mdpl dan dengan jalur setapak yang memang sudah di buat warga sekitar hanya saja kurangnya petunjuk jalan ya. Karena untuk menuju Leuwi Ciung ini kita akan menemukan persimpangan jalan antara ke kiri dan kanan lalu ke atas yang terdapat berupa saung dengan bendera merah putihnya. Dan saya pun disitu sempat salah ambil jalan yaitu malah ke kanan menuju sumber suara yaitu air, saya pikir itu adalah Leuwi Ciung akan tetapi pas saya sampai lokasi saya malah di bawa ke lokasi camping Lembah Kaliandra, tidak salah memang di situ pun terdapat suara air. Karena mengingat lembah Kaliandra ini tepat di samping sungai yaitu aliran dari Leuwi Ciung itu sendiri.
Akhirnya saya kembali ke pertigaan yang tadi lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Leuwi Ciung dengan mengambil jalan yang ke kiri dari pertigaan yang tadi.Tinggal menyusuri dan mengikuti jalanan tersebut dan hati-hati teman ada satu titik bekas longsoran saat itu mungkin karena di guyur hujan terus menerus sehingga longsor pun tidak bisa di hindarkan.
Kurangnya informasi petunjuk jalan untuk menuju Leuwi Ciung atau Curug Ciung ini membuat saya menjadi bingung saat itu. Informasi hanya bisa kita dapatkan di camp area 720 mdpl saja. Alangkah lebih baiknya memasang petunjuk jalan seperti yang di terapkan dari basecamp menuju camp area 720 mdpl itu sangat banyak dan terpampang sangat jelas dan tentunya memudahkan para pendaki terlebih pendaki solo seperti saya. Mungkin tidak masalah bagi  mereka yang menggunakan jasa guide lokal. Tetapi akan sedikit bermasalah bagi mereka yang memang baru pertama kali datang ke Gunung Ciung ini seoarang diri tanpa guide.Semoga kedepannya lebih baik lagi dan tentunya petunjuk jalan pun bisa di pasang untuk menuju Leuwi Ciung atau Curug Ciung ini. 


Setelah saya sampai saya langsung menikmati kesegaran airnya dan iya mandi terlanjur basah kuyup akhirnya ya sudah saya mandi sambil sesekali saya harus berhati-hati, karena mengingat sedang hujan takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan seperti air meluap atau apapun itu namanya di alam apapun bisa terjadi.Setelah mandi dan saya pun kembali ke camp area 720 mdpl langsung ganti baju dan bilas ya di toilet yang memang sudah tersedia. Dan benar saja ternyata ramai sekali pendaki lain dan tentunya warungnya juga buka saat itu. Ternyata memang benar mendaki di weekend itu bisa bertemu orang banyak di Gunung.
Dengan begitu berakhir sudah perjalanan saya di Gunung Ciung 950 mdpl hujan pun turun dengan lebatnya dan menandakan bahwa saya memang harus benar-benar menyudahi dan kembali dengan selamat dan sehat. Alhamdulillah selesai sudah aktivitas saya di Gunung Ciung ini tetap terjaga dan selalu berhati-hati dimanapun kita berada dan selalu ceritakan tentang apa yang kita lakukan di gunung. 
Terimakasih Gunung Ciung 950 MDPL. 


Lokasi :Gunung Ciung 950 MDPL Sentul City,Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 
Buka:Setiap Hari (24 jam) 
HTM:Hiking Rp.15.000,

Follow Me On.
Twitter:@sandali__
Instagram:
Facebook:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GUA MARIA PEMANDIAN ALAM ANJUNGAN KABUPATEN MEMPAWAH KALIMANTAN BARAT

Mencoba sesuatu hal yang baru itu memang menyenangkan,seru pastinya dan harus di coba biar kita tau rasanya itu seperti apa,dan ini menjadi penutup perjalanan gue di Bulan April ini.Seperti halnya yang baru gue coba sekitar tiga hari yang lalu sesuai dengan janji gue di cerita yang sebelumnya  Kolam Renang Tirta Indah Mempawah  tentang berenang di tempat yang beda bener-bener beda dari biasaya,dengan air alami langsung dari sumber mata air dari atas bukit. Di manakah itu penasaran bukan,yang pasti kalian gak penasaran lagi karena udah ada judul di atas tertulis begitu jelas haha,iya dimana lagi kalau bukan di Gua Maria Anjungan .Kalie Ini KUDUJALAN.COM akan mengajak kalian semua menyambangi atau melihat atau mengexplore Gua Maria yang begitu bersejarah di Kalimantan Barat ini.Lokasinya pun tidak begitu jauh dari jalan raya Anjongan-Mandor,dan akses menuju Guanya pun sangat-sangatt mudah banget pokoknya rekomend buat kalian yang belum pernah kesini.Oke langsung aja y...

Bukit Daolong Via Gunung Ciung

Tektok Lagi• Saat itu pagi hari saya dengan yakin sepenuh hati untuk melangkah lagi. Dengan penuh rasa bahagia yang menemani setiap langkah demi langkah dan membawa saya kembali ke sebuah tempat di mana saya bisa mengutarakan berbagai imajinasi, mengeluarkan dan menghempaskan sesuatu yang memang janggal dan mengganjal di dalam diri serta pencarian jati diri.  Selamat datang kembali di Sentul City tepatnya di Gunung Ciung, bukan hanya Gunung Ciung melainkan saya akan menuju sebuah bukit yang indah di kawasan Sentul City. Dan saya akan melewati beberapa bukit atau puncak untuk sampai di bukit yang indah tersebut. Serta beberapa spot baru yang bisa di gunakan sekaligus dalam satu pendakian yang tentunya sudah bekerja sama dengan pihak pengelola Gunung Ciung. Dan masih banyak lagi tentunya kalau mau di bahas satu per satu, langsung saja ikutin perjalanan saya kali ini di Bukit Daolong Sentul City.  Basecamp Gunung Ciung Tepat pukul 07.30 WIB saya sampai di Basecamp Gunung Ciung, i...

HIDUP HANYA SEKALI BAGIAN 10

Setelah sempat terhenti beberapa saat, akhirnya saya kembali dan mau melanjutkan jurnal saya ini. Ya senang sih rasanya kamu menjadi tempat kedua setelah tempat pertama untuk menumpahkan semuanya yaitu sama yang maha kuasa yaitu Allah SWT. Selain saya bercerita disini ya yang masih menjadi tempat favorit saya untuk bercerita ya sama Allah tentunya. Senang saja gitu tidak perlu takut saya itu tidak sendiri, selalu ada Allah yang selalu mendengar kapanpun dan dimanapun kita mau bercerita.🕊 Nah kembali lagi ke jurnal saya itu tentang Hidup Hanya Sekali, kali ini saya mau melanjutkan jurnal tersebut, dan sebelum melanjutkan mari kita melihat ulang merefleksikan kembali atau melihat ringkasan singkat mengenai jurnal saya yang sudah saya tuliskan di blog saya ini. 💻 Berikut ini ringkasan ulang dari tulisan jurnal saya sejauh ini, ada beberapa bagian sih. Mari kita membacanya kembali secara perlahan—seperti menyusuri kembali jejak langkah yang sudah kita tempuh sejauh ini🌙 Awal yang Berat....

HIDUP HANYA SEKALI

• Jadi Jangan Sakit-Sakitan Terus Kita sering dengar kalimat "hidup hanya sekali" sebagai alasan buat jalan-jalan, makan enak, nongkrong sampai pagi, atau beli barang-barang yang bikin dompet nyesek. Tapi, pernah nggak sih kita mikir, kalau hidup cuma sekali, ya jangan disia-siain dengan gaya hidup yang bikin tubuh jadi langganan masuk angin atau langganan obat warung? Serius deh. Hidup cuma sekali, jadi kenapa kita nggak coba hidup dengan sehat tapi santai? 1. Tidur Cukup, Jangan Cuma Rebahan Tidur itu penting. Tapi jangan dikira rebahan sambil scroll TikTok 4 jam juga termasuk istirahat yang berkualitas. Beda, bestie! Tidur yang benar itu tidur cukup, sekitar 7–8 jam semalam, tanpa drama begadang nonton serial Korea sampai mata panda. Tubuh kita butuh waktu buat restart, bukan cuma ngelamun sambil rebahan. 2. Makan Enak Boleh, Tapi Jangan Lupa Sayur Kita semua suka makanan enak. Makan gorengan sambil ngeteh sore-sore? Surgawi. Tapi coba deh sesekali kasih tubuh kita asupan ...

HIDUP HANYA SEKALI BAGIAN 11dan 12

Ini adalah Bagian 11 dari tulisan jurnal saya tentang rasa, harapan, dan kepercayaan yang tetap saya genggam erat, meskipun dunia seringkali tidak pasti 💻 --- Bagian 11: Harapan yang Tidak Pernah Pergi.  Malam ini aku ingin menulis tentang rasa. Rasa yang tak selalu bisa dijelaskan, tapi selalu hadir. Rasa takut, cemas, dan khawatir yang seringkali datang tanpa permisi, membayangi seperti bayang-bayang yang terus mengikuti. Tapi di balik semua itu, ada satu rasa yang tak pernah benar-benar hilang—percaya. Aku percaya, selama aku masih berusaha—meskipun kecil, meskipun pelan, bahkan meskipun harus tertatih—harapan itu akan tetap ada. Ia mungkin tidak bersinar terang, tapi cukup hangat untuk terus menyalakan langkahku. Cukup untuk membuatku terus bangun setiap pagi dan berkata, “Ayo, hari ini kita coba lagi.” Aku percaya bahwa hari indah itu bukan dongeng. Hari itu nyata, hanya saja belum sampai ke waktunya. Mungkin sekarang jalanku memang masih panjang dan penuh belokan, tapi aku t...