Beberapa hari setelah kunjungan saya ke Cisadon Badeur Lake, saya memutuskan untuk kembali ke kawasan yang sama yaitu ke Cisadon Badeur Lake melalui rute Megamendung Cipendawa ke Pondok Pemburu tetapi kali ini setelah dari Cisadon saya memutuskan untuk menuju Pasir Limo, yang berada di ketinggian ±1.075 mdpl. Karena saya sangat penasaran sekali akan tempat ini sehingga saya memutuskan untuk kesana sebelum akhirnya pulang.
Perjalanan masih familiar: melewati kebun kopi milik warga, tanjakan dan turunan perbukitan yang membuat napas kadang tertahan. Namun semuanya terasa ringan ketika alam menyambut dengan keheningan.
Sesampainya di Pasir Limo, suasananya berbeda dengan pengalaman sebelumnya. Tidak ramai. Bahkan, saya sendirian. Hari itu saya sengaja datang di hari kerja agar bisa benar-benar menikmati ketenangan. Kabut tipis melingkupi bukit-bukit di sekeliling, menciptakan suasana seperti dunia yang berhenti sejenak.
Suara langkah kaki di rumput, desah lembut angin, dan senyap yang hampir terasa sebagai teman semuanya hadir.
Bukit-bukit di Pasir Limo tak seluas panorama di Cisadon; namun justru karena kesederhanaan ruangnya, saya merasakan kedekatan yang lebih intim dengan alam. Duduk di atas batu tepi jalur, saya menatap ke hamparan kabut yang bergerak perlahan, seolah memeluk bukit hijau di bawahnya. Saya ingat bagaimana saya pernah berada di Cisadon, mendengar gemericik air dan melihat ikan-ikan di danau; kali ini, suara itu digantikan oleh desisan kabut dan kecipak halus akar rumput ketika saya menginjaknya.
Meskipun fasilitas di sini lebih sederhana dan area sangat sepi, saya merasa justru itu yang membuatnya istimewa. Tidak perlu banyak kata. Tidak perlu keramaian. Hanya ada saya, alam, dan waktu yang berjalan tanpa tergesa.
Saya berjalan perlahan sepanjang jalur, berhenti beberapa kali untuk menatap pemandangan kabut yang terangkat sebentar, lalu menutup lagi; sinar matahari yang menembus celah awan; aroma kopi yang masih tersisa dari kebun di belakang.
Saya tersenyum sendiri, memikirkan bagaimana saya bisa kembali ke suatu tempat yang ‘tersembunyi’, namun semakin dekat dengan kedamaian. Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa keindahan bukan selalu tentang luas dan ramai kadang justru tentang ruang yang cukup untuk kita menjadi hening.
Jika kamu mencari tempat untuk mundur sebentar dari hiruk-pikuk, untuk hanya “ada”, maka Pasir Limo adalah sebuah pilihan yang lembut. Tidak menjanjikan panorama spektakuler seperti tempat wisata besar, tapi menawarkan sesuatu yang lebih dalam kesendirian yang tidak terasa sunyi, tetapi hangat.
Datanglah di hari kerja. Biarkan kabut membelai cakrawala. Beri diri kamu waktu untuk duduk, bernapas, dan menyadari betapa kecil kita di hadapan alam dan betapa besar kedamaiannya ketika kita memilih untuk hadir.
Demikianlah perjalanan singkat saya ke Cisadon lanjut Pasir Limo. Nanti mungkin saya akan kembali dan mengeksplor tempat-tempat yang lainnya yang ada di kawasan Sentul City, sampai ketemu di perjalanan saya berikutnya.Teruslah saling menjaga dan ceritakan tentang apa yang kita lakukan di alam. Well saya Bagus Sandali, salam.
Lokasi : PASIR LIMO 1075 MDPL Sentul City Bogor Jawa Barat.
Buka : Setiap Hari (24 jam)
Follow Me On.
Facebook : Bagus Sandali
Instagram : @hi.gus__
Twitter : @hiigus__
Youtube : Bagus Sandali

Komentar