Langsung ke konten utama

DUA TAHUN DI RUMAH



Catatan Sunyi Tentang Kehilangan, Kesabaran, dan Menemukan Diri Lagi. 

“Dua tahun lalu, aku tidak membayangkan hidupku akan berhenti secepat itu. Tapi kini aku mengerti—kadang hidup memang harus berhenti agar kita bisa memahami arah selanjutnya.”

Tanggal 23 November nanti menandai tepat dua tahun aku berada di rumah. Dua tahun sejak aku mengambil keputusan besar atau mungkin lebih tepat disebut keharusan besar yang mengubah seluruh ritme hidupku. Keputusan yang bagi sebagian orang mungkin tampak biasa saja. Tapi untukku, itu adalah langkah yang mengguncang hidup, langkah yang penuh ketidakpastian, dan sampai sekarang masih menyisakan getaran di dalam dada.

Dua tahun.
Angka yang terdengar sederhana, tapi ternyata bisa menyimpan begitu banyak cerita.

Sebelum Semua Berubah. 
Jika aku memutar ulang hidupku sebelum dua tahun lalu, sebenarnya tidak ada yang benar-benar “istimewa”. Aku bangun pagi, bersiap, pergi bekerja, menghabiskan hari dengan tugas-tugas yang sudah kuhafal di luar kepala, lalu pulang saat langit sudah gelap. Kadang naik kereta, kadang naik motor, kadang hanya berjalan cepat ke halte sambil berharap tidak terlambat. Begitulah setiap hari.
Aku tinggal di kosan kecil—tempat yang mungkin tidak nyaman menurut standar banyak orang, tapi bagiku waktu itu terasa seperti tempat berlindung kecil di tengah hiruk pikuk dunia. Kosan dengan tembok tipis, kipas angin yang kadang suara motornya lebih keras daripada anginnya, dan meja kecil tempat aku menyimpan segala macam barang.
Hidupku sederhana, melelahkan, dan kadang membuatku bertanya-tanya kapan bisa istirahat sebentar.
Ironisnya, ketika “istirahat panjang” itu benar-benar datang, aku justru ingin kembali ke kesibukan yang dulu sering membuatku mengeluh.

Langkah Besar yang Harus Diambil. 
Tahun 2023 menjadi titik balik. Tubuhku tidak lagi sekuat dulu. Ada kondisi yang memaksaku berhenti bekerja. Ada pengobatan yang tidak bisa ditunda. Ada kenyataan yang harus kuterima meski tidak pernah siap.
Mengambil keputusan untuk berhenti bekerja bukan hal mudah. Ada sisi hidupku yang langsung runtuh: kebiasaan, rutinitas, kemandirian, bahkan rasa diriku sendiri. Rasanya seperti seseorang menekan tombol “pause” secara tiba-tiba, dan aku tidak tahu kapan tombol itu akan ditekan kembali.
Tiba-tiba aku harus pulang ke rumah.
Tiba-tiba aku harus berhenti.
Tiba-tiba aku harus menghadapi hari-hari yang tidak lagi diisi deru perjalanan, tapi kesunyian yang menggulung perlahan.

Dua Tahun di Rumah: Hari-Hari yang Tidak Terlihat. 
Banyak orang berpikir tinggal di rumah itu mudah. Mereka melihatnya sebagai liburan, waktu untuk istirahat, atau “kesempatan untuk recharge”. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Dua tahun di rumah mengajarkanku bahwa ada bentuk kelelahan yang lebih dalam daripada kelelahan fisik: yaitu kelelahan yang datang dari ketidakpastian.
Ada hari-hari ketika aku bangun dengan sedikit tenaga untuk menjalani rutinitas kecilku.
Ada hari ketika tubuhku terasa terlalu berat untuk digerakkan.
Ada hari ketika rasa takut datang tanpa permisi—takut akan masa depan, takut tidak bisa kembali bekerja, takut mengecewakan banyak orang, takut kehilangan diri sendiri.
Dan yang paling menyakitkan adalah rasa tertinggal itu.
Melihat teman-teman lain melanjutkan hidupnya, bekerja, menikah, membeli rumah, mengejar mimpi—sementara aku masih di tempat yang sama. Masih di kamar yang sama. Masih dengan obat yang sama. Masih dengan pertanyaan yang sama.
Kadang aku merasa dunia berlari, sementara aku bahkan sulit untuk berjalan.
Kehilangan yang Tidak Terlihat oleh Orang Lain
Yang hilang bukan hanya pekerjaanku.
Yang hilang bukan hanya rutinitasku.
Yang hilang adalah rasa bahwa aku “bergerak”.
Rasa bahwa aku “berfungsi”.
Rasa bahwa aku “punya arah”.
Ada hari-hari ketika aku merasa seperti berada di dasar sumur: sempit, gelap, dan jauh dari suara dunia. Ada hari ketika aku benar-benar ingin menyerah, ingin menghentikan semuanya, ingin berhenti berjuang.
Tapi setiap kali aku melihat ke belakang, aku sadar satu hal…
Aku sudah berjalan sejauh ini.
Meski pelan.
Meski terseok.
Meski tanpa tepuk tangan siapa pun.
Dan perjalanan sejauh ini bukan hal kecil.

Pertempuran dengan Bayangan. 
Yang paling sulit bukan rasa sakit fisik.Yang paling sulit adalah bayangan pikiran yang muncul saat malam tiba.Keinginan untuk menyudahi semuanya.
Keinginan untuk berhenti minum obat.
Keinginan untuk berhenti berjuang.
Bayangan itu datang pelan-pelan, kemudian tiba-tiba jadi besar. Rasanya seperti ada dua diriku yang saling tarik-menarik: satu ingin hidup, satu ingin menyerah.
Tapi setiap kali pagi datang, aku masih di sini.
Dan itu berarti aku menang—walau hanya sedikit.

Menemukan Sesuatu untuk Bertahan. 
Di tengah kelelahan itu, aku menemukan satu hal yang membantuku tetap waras: menulis.
Menulis membuatku tetap punya suara.
Ketika aku merasa tidak didengar, setidaknya aku bisa mendengar diriku sendiri melalui kata-kata.
Menulis membuatku jujur.
Tentang ketakutanku, tentang kemarahanku, tentang kesedihanku yang tidak bisa kuungkapkan dengan lantang.
Menulis membuatku ingat bahwa aku masih hidup.
Bahwa aku masih merasa.
Bahwa hatiku, meski penuh luka, masih berdetak.

Dua Tahun yang Tidak Sia-Sia. 
Kadang aku masih merasa kalah.
Kadang aku masih merasa lemah.
Kadang aku masih merasa tidak punya apa-apa.
Tapi ketika aku melihat lebih jauh, aku tahu dua tahun ini bukan hanya tentang kehilangan.
Dua tahun ini adalah tentang membangun ulang.
Pelan sekali, tapi ada.
Mungkin aku tidak seaktif dulu.
Mungkin aku tidak seproduktif dulu.
Mungkin aku masih belum kembali bekerja.
Tapi aku belajar sesuatu yang tidak pernah kupelajari sebelumnya:
Bahwa bertahan, meski perlahan, juga adalah bentuk keberanian.
Tidak semua orang bisa melakukannya.Tidak semua orang mau melakukannya.Tidak semua orang kuat untuk tetap bertahan ketika hidup memukul tanpa ampun.
Tapi aku melakukannya.
Hari demi hari.
Tanpa tepuk tangan.
Tanpa sorotan.
Tanpa jaminan bahwa semuanya akan membaik cepat.
Dan itu adalah kekuatan yang tidak bisa diremehkan.

Menuju Tahun Ketiga. 
Aku tidak tahu apa yang menunggu di depan.Mungkin tahun depan aku sudah bekerja lagi.Mungkin pengobatan masih harus dilanjutkan.Mungkin aku akan menemukan arah baru yang tidak pernah kusangka.
Yang aku tahu hanya satu:
Aku sudah melewati dua tahun paling sunyi, paling berat, paling penuh air mata dalam hidupku.
Dan jika aku bisa melewati ini, aku bisa melewati apa pun.
Dua tahun di rumah bukan akhir.
Ini adalah babak yang membuka jalan bagi sesuatu yang lebih besar.
Entah apa, entah kapan—tapi aku percaya akan ada terang di ujung yang selama ini gelap.
Untuk sekarang, aku hanya ingin memberi ruang bagi diriku sendiri:
untuk bernafas, untuk bertahan, untuk terus hidup.
Dan itu sudah lebih dari cukup.

Demikianlah sedikit catatan keluh kesah saya selama ini, ya setidaknya berkurang sedikitlah rasa sesak di dada yang selama ini mengganggu saya. Mungkin dengan ini akan terasa lebih baik karena tidak baik bukan harus terus menyimpan di dalam dada. Maka dari itu saya save di blog ini, perjalan dua tahun yang sangat berarti bagi diri saya sendiri sebuah pembelajaran yang tidak pernah saya dapatkan di manapun.
Semoga ini menjadi pengingat di saat di mana rasa itu mulai datang kembali menghantui saya akan terus selalu mengingat catatan ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEGARNYA KOLAM RENANG PASPAMPRES KOTA BOGOR JAWA BARAT

Lagi-lagi di Kota Bogor,memang tiada habisnya kalau membahas soal Kota Bogor,dari mulai wisata kulinernya,wisata perkotaannya,taman-tamannya,wisata airnya atau kolam renang bahkan hingga wisata alam seperti air terjun dan gunung.Semua ada di Bogor dengan akses yang begitu mudah dan tidak terlalu jauh dari kota-kota sekitarnya seperti Jakarta,Bekasi,Depok,dan Tanggerang menjadikan Bogor selalu jadi pilihan untuk sekedar menghabiskan waktu dengan teman,sanak,dan sodara pastinya. Karena Kota Bogor ini adalah Kota hujan,dan hujan itu berupa air,kali ini saya akan membahas soal air pokoknya berhungan dengan air atau bisa di bilang wisata air yang ada di Bogor.Dan ini pengalaman saya pribadi setelah saya mencoba sekitar dua kali.Dan menarik juga untuk diangkat di blog saya manakala kalian lagi mencari Wisata Air yang ada di Bogor juga semoga bermanfaat buat kalian dan bisa menjadi referensi atau mungkin list wisata air yang mau kalian coba gitu.Di manakah itu,eehhh kalian pasti sudah tau...

GUA MARIA PEMANDIAN ALAM ANJUNGAN KABUPATEN MEMPAWAH KALIMANTAN BARAT

Mencoba sesuatu hal yang baru itu memang menyenangkan,seru pastinya dan harus di coba biar kita tau rasanya itu seperti apa,dan ini menjadi penutup perjalanan gue di Bulan April ini.Seperti halnya yang baru gue coba sekitar tiga hari yang lalu sesuai dengan janji gue di cerita yang sebelumnya  Kolam Renang Tirta Indah Mempawah  tentang berenang di tempat yang beda bener-bener beda dari biasaya,dengan air alami langsung dari sumber mata air dari atas bukit. Di manakah itu penasaran bukan,yang pasti kalian gak penasaran lagi karena udah ada judul di atas tertulis begitu jelas haha,iya dimana lagi kalau bukan di Gua Maria Anjungan .Kalie Ini KUDUJALAN.COM akan mengajak kalian semua menyambangi atau melihat atau mengexplore Gua Maria yang begitu bersejarah di Kalimantan Barat ini.Lokasinya pun tidak begitu jauh dari jalan raya Anjongan-Mandor,dan akses menuju Guanya pun sangat-sangatt mudah banget pokoknya rekomend buat kalian yang belum pernah kesini.Oke langsung aja y...

KELILING KOTA PONTIANAK KALIMANTAN BARAT

Kota Pontianak adalah Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat ,Indonesia.Kota ini di kenal sebagai Kota Khatulistiwa karena di lalui garis Khatulistiwa. Perjalanan spesial gue kalie ini adalah keliling Kota Pontianak,hahh Pontianak bukan setiap ada kerjaan selalu ke Pontianak kenapa di bilang spesial??harusnya perjalanan biasa aja ya kan. Kenapa di bilang spesial karena ini perjalanan yang sangat beda banget dari yang lain nya,memang sih ada kerjaan juga tapi bukan itu tujuan utamanya untuk kalie ini.Kalau tujuan utamanya pekerjaan tidak mungkin gue menuliskan judul seperti itu,karena kalau hanya pekerjaan jalur yang gue lalui itu hanya jalur-jalur utama di Kota Pontianak ibarat kata cuma numpang lewat gitu aja.Makanya ini jadi perjalanan yang sangat beda banget bagi gue kalie ini. Di mulai dari rumah jam menunjukan pukul 02.00 wow masih pagi memang iya karena tujuan utama nya sih bukan keliling ya,tapi gue itu ada janji sama Taxi Pontianak karena ada titipan Burung gitu sekitar j...

MENULIS ATAU PENULIS

Selamat sore dan selamat menikmati akhir pekan anda pastinya,yang lagi jalan-jalan atau yang lagi males-malesan di rumah santai-santai pokoknya bagi kalian semua siapapun itu. Postingan kalie ini berjudul MENULIS ATAU PENULIS kedua kata yang sama aja dalam pengertian nya menurut saya,mungkin kalau lebih spesifik penulis itu lebih ke propesi seseorang kalie ya,kalau menulis ya suatu kata kerja yang di mana biasa di lakukan oleh orang-orang terutama bagi mereka yang masih bersekolah tentunya dan perkantoran pastinya dan lain sebagainya. Saya sendiri gak tau kenapa sangat senang sekali dengan menulis,mungkin bisa di bilang hobi bisa jadi.Sampe saya pernah baca artikel hobi yang di bayar adalah pekerjaan yang menyenangkan itulah sepenggal kalimat yang pernah saya baca bahkan di hari ini tadi siang lebih tepatnya di sebuah apps gitu. Sebenernya saya tidak begitu paham dengan dunia pertulisan ini,yang oenting jalanin dulu pelajari sedikit demi sedikit,insya Allah pasti bisa dan bermanfaat...

TIDAK ADA PERJALANAN UNTUK SAAT INI

Weeessss jangan kaget dulu ya,bukan berarti gue gak bakalan melakukan perjalanan l agi,mending baca dulu ya sampai selesai oke.. Tidak ada perjalanan mungkin memang benar,kalau ada perjalanan mungkin gue tidak akan menggunakan judul di atas seperti itu.Hemmmm kenapa ya?oke kita bahas sedikit di bawah ini Oke jadi pertamanya begini,pada hari Sabtu kemarin gue biasa lembur malam di mulai dari jam 01.00 gue masuk kerja tuh sampai selesai jam 03.00 baru dah cabut ke Bandara,biasanya seperti itu..cuma kemarin ceritanya beda,kenapa beda karena gue agak sekidikit mau drop waktu itu kaya gak enak badan gitu sumpah,keringet dingin bercucuran,rasa panas yang tiba-tiba,terus dada yang semakin sesak berasa sempit banget di area dada kiri saya tepat di dekat jantung. Dan nafas gue pun semakin pendek gak tau kenapa gue juga bingung.30 menit berjalan yaitu 01.30 badan gue semakin kacau keos gitu lah pokok nya sumpah,dan aneh nya kenapa kakak gue kok bisa tau keadaan gue seperti ini,mungkin ...