Catatan Sunyi Tentang Kehilangan, Kesabaran, dan Menemukan Diri Lagi.
“Dua tahun lalu, aku tidak membayangkan hidupku akan berhenti secepat itu. Tapi kini aku mengerti—kadang hidup memang harus berhenti agar kita bisa memahami arah selanjutnya.”
Dua tahun.
Angka yang terdengar sederhana, tapi ternyata bisa menyimpan begitu banyak cerita.
Sebelum Semua Berubah.
Jika aku memutar ulang hidupku sebelum dua tahun lalu, sebenarnya tidak ada yang benar-benar “istimewa”. Aku bangun pagi, bersiap, pergi bekerja, menghabiskan hari dengan tugas-tugas yang sudah kuhafal di luar kepala, lalu pulang saat langit sudah gelap. Kadang naik kereta, kadang naik motor, kadang hanya berjalan cepat ke halte sambil berharap tidak terlambat. Begitulah setiap hari.
Aku tinggal di kosan kecil—tempat yang mungkin tidak nyaman menurut standar banyak orang, tapi bagiku waktu itu terasa seperti tempat berlindung kecil di tengah hiruk pikuk dunia. Kosan dengan tembok tipis, kipas angin yang kadang suara motornya lebih keras daripada anginnya, dan meja kecil tempat aku menyimpan segala macam barang.
Hidupku sederhana, melelahkan, dan kadang membuatku bertanya-tanya kapan bisa istirahat sebentar.
Ironisnya, ketika “istirahat panjang” itu benar-benar datang, aku justru ingin kembali ke kesibukan yang dulu sering membuatku mengeluh.
Langkah Besar yang Harus Diambil.
Tahun 2023 menjadi titik balik. Tubuhku tidak lagi sekuat dulu. Ada kondisi yang memaksaku berhenti bekerja. Ada pengobatan yang tidak bisa ditunda. Ada kenyataan yang harus kuterima meski tidak pernah siap.
Mengambil keputusan untuk berhenti bekerja bukan hal mudah. Ada sisi hidupku yang langsung runtuh: kebiasaan, rutinitas, kemandirian, bahkan rasa diriku sendiri. Rasanya seperti seseorang menekan tombol “pause” secara tiba-tiba, dan aku tidak tahu kapan tombol itu akan ditekan kembali.
Tiba-tiba aku harus pulang ke rumah.
Tiba-tiba aku harus berhenti.
Tiba-tiba aku harus menghadapi hari-hari yang tidak lagi diisi deru perjalanan, tapi kesunyian yang menggulung perlahan.
Dua Tahun di Rumah: Hari-Hari yang Tidak Terlihat.
Banyak orang berpikir tinggal di rumah itu mudah. Mereka melihatnya sebagai liburan, waktu untuk istirahat, atau “kesempatan untuk recharge”. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Dua tahun di rumah mengajarkanku bahwa ada bentuk kelelahan yang lebih dalam daripada kelelahan fisik: yaitu kelelahan yang datang dari ketidakpastian.
Ada hari-hari ketika aku bangun dengan sedikit tenaga untuk menjalani rutinitas kecilku.
Ada hari ketika tubuhku terasa terlalu berat untuk digerakkan.
Ada hari ketika rasa takut datang tanpa permisi—takut akan masa depan, takut tidak bisa kembali bekerja, takut mengecewakan banyak orang, takut kehilangan diri sendiri.
Dan yang paling menyakitkan adalah rasa tertinggal itu.
Melihat teman-teman lain melanjutkan hidupnya, bekerja, menikah, membeli rumah, mengejar mimpi—sementara aku masih di tempat yang sama. Masih di kamar yang sama. Masih dengan obat yang sama. Masih dengan pertanyaan yang sama.
Kadang aku merasa dunia berlari, sementara aku bahkan sulit untuk berjalan.
Kehilangan yang Tidak Terlihat oleh Orang Lain
Yang hilang bukan hanya pekerjaanku.
Yang hilang bukan hanya rutinitasku.
Yang hilang adalah rasa bahwa aku “bergerak”.
Rasa bahwa aku “berfungsi”.
Rasa bahwa aku “punya arah”.
Ada hari-hari ketika aku merasa seperti berada di dasar sumur: sempit, gelap, dan jauh dari suara dunia. Ada hari ketika aku benar-benar ingin menyerah, ingin menghentikan semuanya, ingin berhenti berjuang.
Tapi setiap kali aku melihat ke belakang, aku sadar satu hal…
Aku sudah berjalan sejauh ini.
Meski pelan.
Meski terseok.
Meski tanpa tepuk tangan siapa pun.
Dan perjalanan sejauh ini bukan hal kecil.
Pertempuran dengan Bayangan.
Yang paling sulit bukan rasa sakit fisik.Yang paling sulit adalah bayangan pikiran yang muncul saat malam tiba.Keinginan untuk menyudahi semuanya.
Keinginan untuk berhenti minum obat.
Keinginan untuk berhenti berjuang.
Bayangan itu datang pelan-pelan, kemudian tiba-tiba jadi besar. Rasanya seperti ada dua diriku yang saling tarik-menarik: satu ingin hidup, satu ingin menyerah.
Tapi setiap kali pagi datang, aku masih di sini.
Dan itu berarti aku menang—walau hanya sedikit.
Menemukan Sesuatu untuk Bertahan.
Di tengah kelelahan itu, aku menemukan satu hal yang membantuku tetap waras: menulis.
Menulis membuatku tetap punya suara.
Ketika aku merasa tidak didengar, setidaknya aku bisa mendengar diriku sendiri melalui kata-kata.
Menulis membuatku jujur.
Tentang ketakutanku, tentang kemarahanku, tentang kesedihanku yang tidak bisa kuungkapkan dengan lantang.
Menulis membuatku ingat bahwa aku masih hidup.
Bahwa aku masih merasa.
Bahwa hatiku, meski penuh luka, masih berdetak.
Dua Tahun yang Tidak Sia-Sia.
Kadang aku masih merasa kalah.
Kadang aku masih merasa lemah.
Kadang aku masih merasa tidak punya apa-apa.
Tapi ketika aku melihat lebih jauh, aku tahu dua tahun ini bukan hanya tentang kehilangan.
Dua tahun ini adalah tentang membangun ulang.
Pelan sekali, tapi ada.
Mungkin aku tidak seaktif dulu.
Mungkin aku tidak seproduktif dulu.
Mungkin aku masih belum kembali bekerja.
Tapi aku belajar sesuatu yang tidak pernah kupelajari sebelumnya:
Bahwa bertahan, meski perlahan, juga adalah bentuk keberanian.
Tidak semua orang bisa melakukannya.Tidak semua orang mau melakukannya.Tidak semua orang kuat untuk tetap bertahan ketika hidup memukul tanpa ampun.
Tapi aku melakukannya.
Hari demi hari.
Tanpa tepuk tangan.
Tanpa sorotan.
Tanpa jaminan bahwa semuanya akan membaik cepat.
Dan itu adalah kekuatan yang tidak bisa diremehkan.
Menuju Tahun Ketiga.
Aku tidak tahu apa yang menunggu di depan.Mungkin tahun depan aku sudah bekerja lagi.Mungkin pengobatan masih harus dilanjutkan.Mungkin aku akan menemukan arah baru yang tidak pernah kusangka.
Yang aku tahu hanya satu:
Aku sudah melewati dua tahun paling sunyi, paling berat, paling penuh air mata dalam hidupku.
Dan jika aku bisa melewati ini, aku bisa melewati apa pun.
Dua tahun di rumah bukan akhir.
Ini adalah babak yang membuka jalan bagi sesuatu yang lebih besar.
Entah apa, entah kapan—tapi aku percaya akan ada terang di ujung yang selama ini gelap.
Untuk sekarang, aku hanya ingin memberi ruang bagi diriku sendiri:
untuk bernafas, untuk bertahan, untuk terus hidup.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Demikianlah sedikit catatan keluh kesah saya selama ini, ya setidaknya berkurang sedikitlah rasa sesak di dada yang selama ini mengganggu saya. Mungkin dengan ini akan terasa lebih baik karena tidak baik bukan harus terus menyimpan di dalam dada. Maka dari itu saya save di blog ini, perjalan dua tahun yang sangat berarti bagi diri saya sendiri sebuah pembelajaran yang tidak pernah saya dapatkan di manapun.
Semoga ini menjadi pengingat di saat di mana rasa itu mulai datang kembali menghantui saya akan terus selalu mengingat catatan ini.

Komentar