Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

HIDUP HANYA SEKALI Bagian 3 dan 4

Bagian III: Aku Masih Di Sini Malam ini, aku menatap layar… Masih bernapas, masih hidup — tapi aku tahu rasanya tak selalu terasa seperti hidup. Sudah hampir dua tahun aku menjalani sesuatu yang tidak pernah kuundang hadir dalam hidupku. Penyakit ini… proses ini… Seolah mencabutku dari dunia yang dulu kukenal: pekerjaan yang kujalani dengan semangat, pemandangan yang dulu kusambut dengan mata berbinar, obrolan ringan dengan teman, tawa-tawa sederhana yang kini terasa seperti mimpi yang jauh. Di awal, segalanya terasa berat. Seperti tenggelam dalam lautan yang tak berujung, seperti burung dalam sangkar yang hanya bisa melihat langit tanpa bisa terbang. Kadang aku ingin marah. Kadang aku hanya ingin diam dan menghilang. Dan ya, aku lelah… Tapi aku tetap ada. Kata orang, waktu menyembuhkan. Mungkin benar… atau mungkin waktu hanya membuat luka belajar bernafas tanpa suara. Namun di balik semua ini, satu hal yang membuatku tetap berdiri: keluarga. Mereka tidak pergi. Saat dunia menjauh, mer...

HIDUP HANYA SEKALI Bagian 1 dan 2

Bagian I : Untuk Mereka yang Masih Bertahan Itu terjadi sekitar satu tahun yang lalu—tepatnya di tahun 2024. Sebuah kejadian yang begitu tajam, begitu membekas dalam ingatan, sampai kadang aku merasa… mungkin saat itu adalah batas antara hidup dan mati. Aku tak sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi pada diriku. Ada rasa takut. Ada sunyi. Dan ada kesedihan yang begitu berat hingga tak tahu harus disuarakan dengan cara apa. Awalnya aku menyangkal semuanya—menyangkal betapa aku sedang terluka. Aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku baik-baik saja, padahal tidak. Aku mencoba lari dari bayangan sendiri, mencoba menjauh dari beban yang menghimpit dada. Lalu... Datanglah sebuah lagu. "Terimakasih Sudah Bertahan." Suara yang berasal dari luar, namun seolah sedang berbicara langsung ke dalam. Ada satu bagian lirik yang sederhana, tapi rasanya seperti membuka luka sekaligus menyembuhkan: “Ternyata kau sekuat itu. Ternyata kau sehebat itu.” Aku menangis—bukan karena aku lemah, t...

HIDUP HANYA SEKALI

• Jadi Jangan Sakit-Sakitan Terus Kita sering dengar kalimat "hidup hanya sekali" sebagai alasan buat jalan-jalan, makan enak, nongkrong sampai pagi, atau beli barang-barang yang bikin dompet nyesek. Tapi, pernah nggak sih kita mikir, kalau hidup cuma sekali, ya jangan disia-siain dengan gaya hidup yang bikin tubuh jadi langganan masuk angin atau langganan obat warung? Serius deh. Hidup cuma sekali, jadi kenapa kita nggak coba hidup dengan sehat tapi santai? 1. Tidur Cukup, Jangan Cuma Rebahan Tidur itu penting. Tapi jangan dikira rebahan sambil scroll TikTok 4 jam juga termasuk istirahat yang berkualitas. Beda, bestie! Tidur yang benar itu tidur cukup, sekitar 7–8 jam semalam, tanpa drama begadang nonton serial Korea sampai mata panda. Tubuh kita butuh waktu buat restart, bukan cuma ngelamun sambil rebahan. 2. Makan Enak Boleh, Tapi Jangan Lupa Sayur Kita semua suka makanan enak. Makan gorengan sambil ngeteh sore-sore? Surgawi. Tapi coba deh sesekali kasih tubuh kita asupan ...

SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1447 HIJRIAH

Tak terasa, kita kembali dipertemukan dengan bulan Muharram—bulan pertama dalam kalender Hijriah. Di tengah hiruk pikuk dunia yang terus bergerak, 1 Muharram hadir sebagai pengingat yang lembut: bahwa waktu terus berjalan, dan kita diajak untuk berjalan bersamanya—dengan hati yang lebih bersih, langkah yang lebih bijak, dan jiwa yang lebih kuat. Tahun Baru Islam bukan hanya tentang pergantian waktu. Ia adalah momen hijrah; momen untuk berpindah dari gelap menuju terang, dari lalai menuju sadar, dari hanya sekadar hidup menjadi lebih bermakna. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra’d: 11) Ayat ini menjadi pengingat, bahwa hijrah bukan hanya tentang berpindah tempat, tetapi tentang perubahan dari dalam diri. Kita punya kuasa untuk memperbaiki, memperbaharui, dan menata ulang hidup dengan seizin-Nya. Dalam sunyi malam 1 Muharram, mungkin banyak dari kita yang memilih diam. Bu...