Mungkin kalau kemarin gak sesak napas ceritanya gak bakalan kaya gini dan gak bakalan ada kata-kata yang kurang berkenan atau gak enak di hati istilahnya.
Sabar...pasti yang namanya sabar ya harus dan mau bagaimana pun saya harus ikhlas ridho dengan semua ini emang udah jalannya kalinya.
Jadi awal mulanya seperti ini,
Kamis 11 Januari 2018 saya mengalami sesak napas untuk yang ke tiga kalinya selama di bulan januari ini,yang pertama itu tanggal 1,dan yang kedua itu tanggal 4 Januari.Cuma untuk yang kemarin tanggal 11 itu kenapa gak hilang-hilang sesak nya biasa jam 12 siang juga hilang gitu seperti biasa lagi,tapi yang kemarin ini malah semakin kuat dan pada akhirnya sore setelah kasih makan burung semakin kuat dan sumpah capek banget dengan keadaan napas pendek seperti ini.
Tepat pukul 17.00 akhirnya saya minta antar ke RSUD dr RUBINI MEMPAWAH mau gak mau tapi sebenernya sumpah dalam hati kecil mah gak mau saya kalau sampe masuk RS lagi,pasti ujung-ujungnya di rawat ini yang bikin saya benci sama yang namnya rumah sakit.Siapa sih yang mau di rawat semua orang juga pasti gak mau ngerelain dirinya untuk di rawat dan menginap di rumah sakit.
Yang lebih menyedihkan nya lagi adalah untuk yang kesekian kalienya saya udah bikin mamah saya menagis lagi karena keadaan saya ini sumpah di situ saya gak sanggup buat berkata-kata dan pokoknya gak kuat.Dan ternyata kasih sayang seorang mamah itu emang sangat berbeda dengan seorang bapak jauuhh sangat berbeda,ini menurut pengalaman saya pribadi.Waktu kemarin contohnya banyak perkataan-perkataan yang bikin gak enak di hati sumpah gak mau di denger ya tetep aja ke denger nah saya punya telinga yang masih normal.Apa lagi setelah BPJS nya bermasalah dan gak bisa di gunakan lagi hmmmm makin tambah-tambah deh.Dan semua itu bukannya membuat saya termotivasi untuk sembuh tapi malah bikin stres sumpah.
Dalam hati selalu ngomong rasanya pengen pulang ke Bogor saya gak kuat ngadepin orang-orang seperti ini sumpah lama-lama ngebatin juga gitu,tapi untungnya saya bukan ternasuk orang seperti itu.Dan intinya gak pernah mikirin perkataan orang terserah dia mau ngomong apapun itu sok we lah mangga.
Dan semua ini berawal dari rasa sesak napas saya,terus masuk RSUD lagi dan kaya beginilah ceritanya dengan orang-orang yang mulutnya itu kurang di tata sedikit dan bisa di jaga intinya,karena lisan itu lebih berbahaya dari pada pisau.
"Sendiri di antara kabut dan bukit ketika alam memanggil untuk diam sejenak.” Beberapa hari setelah kunjungan saya ke Cisadon Badeur Lake , saya memutuskan untuk kembali ke kawasan yang sama yaitu ke Cisadon Badeur Lake melalui rute Megamendung Cipendawa ke Pondok Pemburu tetapi kali ini setelah dari Cisadon saya memutuskan untuk menuju Pasir Limo , yang berada di ketinggian ±1.075 mdpl. Karena saya sangat penasaran sekali akan tempat ini sehingga saya memutuskan untuk kesana sebelum akhirnya pulang. Perjalanan masih familiar: melewati kebun kopi milik warga, tanjakan dan turunan perbukitan yang membuat napas kadang tertahan. Namun semuanya terasa ringan ketika alam menyambut dengan keheningan. Sesampainya di Pasir Limo, suasananya berbeda dengan pengalaman sebelumnya. Tidak ramai. Bahkan, saya sendirian. Hari itu saya sengaja datang di hari kerja agar bisa benar-benar menikmati ketenangan. Kabut tipis melingkupi bukit-bukit di sekeliling, menciptakan suasana seperti dunia yang...
Komentar